Minggu, 06 November 2011

Salah

Sebulan akhir ini dia menyadari. Dia melakukan kesalahan. Ya, dia melakukan kesalahan dan terperosok ke dalam sumur kesalahan, -- karena dia mengharapkan seseorang yang salah.

*****

Dia menutup rapat jendela kamarnya. "Aku takut," ujarnya. "Aku takut jika ada angin yang membawa debu masuk ke dalam hidungku, kemudian debu itu turun ke paru-paruku, berjelajah bersama darah dan sampai dia di hatiku."
Aku termangu mendengar kata-katanya. Benarkah dia telah menutup jendelanya rapat-rapat? Tapi sepetinya memang sudah rapat, terlalu rapat malah. Bahkan dia menutup jendela itu dengan gorden tebal berwarna gelap, sehingga cahaya matahari pun tidak kuasa untuk melirik kamar itu.
Dia menatapku dalam, seolah - olah semua kata-kata yang ingin diucapkannya bisa terkirim lewat pandangan mata. Tapi dia salah mempercayai orang, karena aku tidak mengerti !
"Aku tidak akan membukakan jendela ini. Aku ingin angin yang membukakan," katanya dengan dingin.
Aku mengerutkan kening dan memiringkan kepala. "Mengapa?"
Dia hanya tersenyum tipis.

*****

Hari ini aku berkunjung ke kamarnya. Aku mendapati dia memeluk lututnya. Rambutnya yang panjang tergerai menutupi muka dan setengah tulang keringnya.
Dia menengadah menatap langit-langit, saat aq tidak sengaja menimbulkan bunyi dari kursi yang aku senggol.
"Aku gagal."
Langkahku terhenti. Aku membuka mulut untuk bersuara, namun dia berkata lebih dahulu, seolah-olah tahu apa yang akan aku katakan.
"Jendelaku. Angin telah mencongkelnya ...."
Aku mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mencerna setiap kata-katanya. Entah mengapa jika urusan mengenai dirinya, otakku selalu macet.
"Dan bodohnya aku, mengapa aku tidak menyadari kalau angin itu memiliki kemungkinan untuk mencongkel jendelaku? Hah ! " Dia mendengus. "Pergilah kau tengok jendela itu."
Tanpa kata-kata aku melangkah menuju jendela. Benar. Jendelanya sudah tercongkel, bahkan sudah mulai terbuka. Kepalan tanganku saja bisa tembus ke celah jendela itu.

****

(bersambung)

Tidak ada komentar: