Rabu, 19 Oktober 2011

Filosofi Debu

Hari ini aku terdiam di pinggir jalan, termenung menatap mesin yang berlalu lalang. Desingannya menggema di kepalaku. Aromanya membuatku mengernyitkan hidung. Aku mengangkat buku yang sedari tadi aku pegang. Baru kali ini aku meliriknya lagi. Bukan sebuah buku yang penting, namun buku ini adalah saksi bisu berjuta kenangan.

Warna cokelat dengan motif polkadot berwarna putih, diberi sampul plastik. Walau sudah menjadi saksi berjuta kenangan, namun buku ini masih bersih. Tapi, tidak seperti sekarang, buku itu menjadi agak kotor. Berdebu.

Aku dekatkan buku itu ke ujung hidung, mengamati debu yang ada menempel pada sampul plastik buku tersebut.Tapi, sebelum buku itu berjarak sepuluh sentimeter dari ujung hidungku, mataku terpejam menahan perih di mata. Sebuah bis melewatiku dengan kecepatan tinggi, dan gerakannya menimbulkan angin yang cukup besar. Aku membetulkan kembali letak syalku yang acak-acakan tersapu angin bus, lalu kupandangi lagi buku tersebut.

Debu itu hilang.

Tidak, masih ada. Namun hanya sedikit.

Aku termangu. Betapa cepatnya debu itu datang dan menempel, kemudian pergi menghilang dan tergantikan oleh debu lainnya. Sama seperti apa yang telah kualami akhir-akhir ini.

***

Beberapa hari yang lalu, seseorang dari luar pulau datang. Awalnya aku merasa segan dengannya, karena dia jarang sekali tersenyum. Namun, karena peristiwa konyol diantara kami, yang terjadi secara tidak disengaja, kami menjadi dekat dan merasa dunia kami sama. Kemana-mana kami bersama, dan hanya terpisah malam saja. Itu pun kami masih bisa berkirim pesan di kediaman kami masing-masing.

Namun, hari ini dia tidak kudapati lagi di tempat biasanya. Aku bertemu dengan orang lain yang benar-benar asing, yang menggantikan posisinya. Aku mencarinya kemana-mana, namun tak ada yang tahu kemana ia pergi. Semua tempat yang pernah kami kunjungi telah aku jelajahi, namun nihil. Dia hilang.

Beberapa hari kemudian, dia masih tidak muncul. ID Chatting nya pun tidak pernah aktif. Nomor telepon genggamnya tidak aktif. Email dan pesan internet yang aku kirim pun tak kunjung berbalas. Blognya tidak pernah diisi lagi. Rumah yang dulu ia tinggali sudah diisi oleh orang lain, dan mereka tidak tahu kemana perginya orang yang kucari.

Kembali lagi aku termenung. Dia sepert debu. Betapa mendadaknya ia datang kehadapanku. Begitu cepat pula kami menjadi akrab. Betapa cepat pula ia meninggalkanku tanpa jejak, dan semua telah berganti dan tergantikan oleh debu yang lainnya, yang sama halnya seperti dia.

Sabtu, 08 Oktober 2011

ROTI CANE


Baru pertama kali aq nyobain yang namanya ROTI CANE. Rotinya seperti yang berlapis-lapis, dan digoreng baru disajikan. Enak lho klo dipaduin ma susu kental manis, selai, meces, keju, dsb.


Bikinnya gimana yah? Soalnya yang tadi aq coba tuh yang siap goreng (instan). Aq malah lebih suka roti cane daripada pancake. Apalagi klo digorengnya pakai mentega, bikin lebih gurih. Hmmmm….

Coba deh :D


CAMELIA II

Tau lagunya Ebit G. Ade yang judulnya “Camelia II” ?
Well, awalnya aq ngerasa aneh, kok judul lagunya dikasih nomor gitu yah, kayak yang berepisode. Lagu Camelia ini ada tiga, yaitu Camelia I, Camelia II, dan Camelia III. Sebenarnya aq udah sering denger lagu-lagu Ebiet G. Ade, tapi dulu waktu aq kecil dan gak ngeh ma isi dan judul lagunya. Kira-kira akhir tahun lalu aq nyetel lagu Camelia II karena merasa aneh dengan angka II-nya, dan namanya agak mirip ma nama tengah aq (gak nyambung) hihihi….

Saat itu pula aq baru tahu kalau 20 tahun yang lalu di bulan-bulan kehidupan terakhir ayah aku, beliau sering sekali menyetel lagu Ebiet G. Ade, terutama yang Camelia itu (kalau gak salah). Jadi, setiap lagu Ebiet G. Ade yang kudengar, mengingatkanku pada almarhum Ayahku.

Isi lagu Camelia itu ternyata bersambung. Isi lagu yang pertama tentang Seorang lelaki yang menyukai Camelia, dan dia beranggapan Camelia adalah his last deep love. Kemudian isi lagu yang kedua, Camelia tersebut meninggal dan lelaki tersebut merasa sangat terpukul atas perpisahan itu. Dan yang terakhir, sang lelaki sudah mulai tenang menerima kepergian Camelia walau masih selalu terbayang sang Camelia.

Dari ketiga rangkaian lagu Camelia, aq paling suka Camelia II, karena menurut aq isinya sangat dalam. Penuh makna disetiap baitnya, bahkan jujur aq pernah salah mengartikan makna lagu itu, namun tadi pagi seseorang menjelaskan makna lagu tersebut. Berikut ini adalah liriknya.

Camelia II

Gugusan hari hari indah bersamamu, Camelia
Bangkitkan kembali rinduku mengajakku ke sana
Ingin kuberlari mengejar seribu bayangmu, Camelia
Tak peduli kan kuterjang,
Biapun kan kutembus padang ilalang

Tiba-tiba langkahku terhenti
Sejuta tangan tlah menahanku
Ingin kumaki mereka berkata
Tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti
Hari ini juga mimpi
Maka biarkan ia datang di hatimu
Di hatimu

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Bagian reff yang paling menyentuh menurutku. Lelaki itu mencoba untuk mengejar kematian Camelia, namun orang di sekitarnya mencegah nya (“Sejuta tangan tlah menahanku”), karena walaupun dia mengejar kematian Camelia, dia belum tentu bertemu dengannya di alam sana (“Tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti”). Perpisahan ini hanyalah perpisahan yang sementara, karena kita hidup di dunia yang fana (“Hari ini juga mimpi”) (**mimpi itu diartikan akan sesuatu yang mudah berakhir). Oleh karena itu, biarkan Camelia akan selalu hidup di hati lelaki itu, meski raganya sudah tak ada lagi (“Maka biarkan ia datang di hatimu”).