Hari ini aku terdiam di pinggir jalan, termenung menatap mesin yang berlalu lalang. Desingannya menggema di kepalaku. Aromanya membuatku mengernyitkan hidung. Aku mengangkat buku yang sedari tadi aku pegang. Baru kali ini aku meliriknya lagi. Bukan sebuah buku yang penting, namun buku ini adalah saksi bisu berjuta kenangan.
Warna cokelat dengan motif polkadot berwarna putih, diberi sampul plastik. Walau sudah menjadi saksi berjuta kenangan, namun buku ini masih bersih. Tapi, tidak seperti sekarang, buku itu menjadi agak kotor. Berdebu.
Aku dekatkan buku itu ke ujung hidung, mengamati debu yang ada menempel pada sampul plastik buku tersebut.Tapi, sebelum buku itu berjarak sepuluh sentimeter dari ujung hidungku, mataku terpejam menahan perih di mata. Sebuah bis melewatiku dengan kecepatan tinggi, dan gerakannya menimbulkan angin yang cukup besar. Aku membetulkan kembali letak syalku yang acak-acakan tersapu angin bus, lalu kupandangi lagi buku tersebut.
Debu itu hilang.
Tidak, masih ada. Namun hanya sedikit.
Aku termangu. Betapa cepatnya debu itu datang dan menempel, kemudian pergi menghilang dan tergantikan oleh debu lainnya. Sama seperti apa yang telah kualami akhir-akhir ini.
***
Beberapa hari yang lalu, seseorang dari luar pulau datang. Awalnya aku merasa segan dengannya, karena dia jarang sekali tersenyum. Namun, karena peristiwa konyol diantara kami, yang terjadi secara tidak disengaja, kami menjadi dekat dan merasa dunia kami sama. Kemana-mana kami bersama, dan hanya terpisah malam saja. Itu pun kami masih bisa berkirim pesan di kediaman kami masing-masing.
Namun, hari ini dia tidak kudapati lagi di tempat biasanya. Aku bertemu dengan orang lain yang benar-benar asing, yang menggantikan posisinya. Aku mencarinya kemana-mana, namun tak ada yang tahu kemana ia pergi. Semua tempat yang pernah kami kunjungi telah aku jelajahi, namun nihil. Dia hilang.
Beberapa hari kemudian, dia masih tidak muncul. ID Chatting nya pun tidak pernah aktif. Nomor telepon genggamnya tidak aktif. Email dan pesan internet yang aku kirim pun tak kunjung berbalas. Blognya tidak pernah diisi lagi. Rumah yang dulu ia tinggali sudah diisi oleh orang lain, dan mereka tidak tahu kemana perginya orang yang kucari.
Kembali lagi aku termenung. Dia sepert debu. Betapa mendadaknya ia datang kehadapanku. Begitu cepat pula kami menjadi akrab. Betapa cepat pula ia meninggalkanku tanpa jejak, dan semua telah berganti dan tergantikan oleh debu yang lainnya, yang sama halnya seperti dia.
